Monday, September 12, 2016

Racau



Dan kau terus meracau
Tentang kenangan
Tentang ingatan sudut-sudut bilik di masa lampau
Katamu, ingatan itu tiba-tiba mampir menamparmu halus, kau kembali padaku
Senyampang dengan tamparan halusmu, masa-masa ketenanganku terusik
Kau diantar keperluan, aku terketuk oleh keterkejutan
Kemudian kita duduk berdampingan
Tak ada lagi sisa kenangan di balik rambut yang menutupi tempurung kepalaku
Aku seperti mengandung anak angin yang dinanti lahir seperti pangeran bertahtakan emas
Kita menjejak di bumi yang sama .. tapi duniaku terpisah darimu.
Jembatannya putus. 
Sebegitukah … aku biasa saja.

** Photo: taken by Winda Carmelita